Beranda | Artikel
Musyawarah Kaum Kafir Quraisy untuk Menghalangi Jemaah Haji dari Dakwah Rasulullah ﷺ
2 hari lalu

Pada artikel sebelumnya, kita telah melihat bagaimana para pembesar Quraisy gagal menekan Abu Thalib agar menghentikan dakwah Rasulullah ﷺ. Kegagalan itu tidak membuat mereka berhenti. Menjelang musim haji, mereka justru menyusun strategi baru, yaitu menyatukan tuduhan yang akan disebarkan kepada kabilah-kabilah Arab agar manusia menjauh dari Rasulullah ﷺ.

Kekhawatiran Quraisy menjelang musim haji

Pada suatu ketika musim haji sudah dekat, sementara Rasulullah ﷺ terus menyeru agama Allah kepada manusia. Hal ini sangat menyibukkan pikiran para pembesar Quraisy. Mereka mengetahui bahwa pada saat musim haji tiba berbagai rombongan Arab akan datang ke Makkah. Mereka khawatir para rombongan tersebut akan terpengaruh oleh dakwah Nabi Muhammad ﷺ dan memeluk agama Islam.

Oleh karena itu, para pembesar Quraisy berkumpul menemui al-Walid bin al-Mughirah (الوليد بن المغيرة) untuk membahas tuduhan apa yang harus mereka sampaikan berkenaan dengan Rasulullah ﷺ.

Al-Walid berkata kepada mereka, “Satukanlah pendapat kalian tentang dirinya.” Maksudnya adalah berkenaan dengan Nabi Muhammad ﷺ. Kemudian ia melanjutkan, “Jangan sampai kalian berbeda-beda sehingga sebagian kalian mendustakan sebagian yang lain dan perkataan kalian saling bertentangan.”

Para pembesar Quraisy merespons, “Kalau begitu, engkaulah yang berbicara. Tetapkanlah bagi kami suatu pendapat yang akan kami katakan.”

Namun, al-Walid justru meminta merekalah yang menyebutkan tuduhan tersebut kepadanya. Ia berkata, “Tidak. Kalianlah yang berbicara, aku akan mendengarkan.”

Mencari tuduhan untuk menjauhkan manusia dari dakwah

Di antara mereka ada yang mengusulkan tuduhan dukun (kahin) kepada Nabi Muhammad ﷺ. Al-Walid menjawab, “Tidak. Demi Allah, dia bukan seorang dukun. Kita telah melihat para dukun. Ucapannya bukan seperti gumaman para dukun dan bukan pula seperti sajak mereka.”

Kemudian ada yang mengusulkan tuduhan orang gila (majnun). Tetapi al-Walid juga tidak setuju dengan berkata, “Dia bukan orang gila. Kita telah melihat kegilaan dan mengetahuinya. Pada dirinya tidak ada gejala seperti cekikan orang gila, gerakan tubuh yang tidak terkendali, maupun bisikan-bisikan kegilaan.”

Lalu ada yang mengusulkan bagaimana jika beliau dijuluki seorang penyair (sya’ir). Lagi-lagi al-Walid tidak menyetujuinya lalu berkata, “Dia bukan seorang penyair. Kita telah mengetahui seluruh bentuk syair, baik rajaz, hazaj, qaridh, bentuk yang pendek maupun yang panjang. Apa yang dibawanya bukanlah syair.”

Rajaz, hazaj, dan qaridh adalah beberapa bentuk syair yang dikenal oleh masyarakat Quraisy. Dengan menyebutkan bentuk syair tersebut, al-Walid ingin menegaskan bahwa ia mengenal berbagai corak syair Arab, tetapi bacaan yang dibawa Rasulullah ﷺ tidak menyerupai satu pun dari bentuk syair tersebut.

Kemudian ada lagi yang menyarankan tuduhan penyihir (sahir) kepada beliau. Namun, al-Walid juga tidak menyetujuinya dan berkata, “Dia bukan penyihir. Kita telah melihat para penyihir dan sihir mereka. Apa yang dibawanya bukanlah seperti tiupan penyihir dan bukan pula seperti simpul-simpul sihir mereka.”

Akhirnya mereka bertanya, “Lalu apa yang harus kita katakan?”

Al-Walid berkata, “Demi Allah, sesungguhnya perkataannya memiliki kemanisan dan keindahan. Akarnya subur dan cabangnya berbuah. Apa pun yang kalian katakan tentang dirinya dari tuduhan-tuduhan tadi pasti akan diketahui sebagai kebatilan.”

Meski al-Walid sendiri mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ bukan penyihir seperti para penyihir yang mereka kenal, ia tetap menilai bahwa tuduhan penyihir dianggap paling bisa memengaruhi masyarakat. Ia berkata, “Tuduhan yang paling mendekati adalah kalian mengatakan bahwa dia adalah seorang penyihir. Ia membawa suatu perkataan yang merupakan sihir, yang dengannya ia memisahkan seseorang dari ayahnya, seseorang dari saudaranya, seseorang dari istrinya, dan seseorang dari keluarganya.” Akhirnya mereka sepakat dengan tuduhan itu lalu berpisah.

Sebagian riwayat menyebutkan bahwa setelah al-Walid membantah setiap tuduhan yang diajukan, para pembesar Quraisy menanggapi, “Tunjukkanlah kepada kami pendapatmu yang tidak mengandung kelemahan.”

Al-Walid berkata, “Berilah aku waktu sampai aku memikirkannya.” Al-Walid pun terus berpikir dan mempertimbangkannya hingga akhirnya menyampaikan perkataan yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu ia setuju dengan tuduhan penyihir.

Propaganda “penyihir” dan upaya menghalangi jemaah haji

Setelah mereka sepakat dalam pertemuan itu, mereka segera melaksanakannya. Mereka duduk di jalan-jalan yang dilalui orang-orang ketika para jemaah datang untuk berhaji. Mereka memperingatkan semua orang yang lewat agar menjauhi Rasulullah ﷺ dan menceritakan tuduhan tentang beliau.

Adapun Rasulullah ﷺ, beliau keluar mendatangi orang-orang di tempat-tempat persinggahan mereka, juga di pasar ‘Ukazh, Majannah, dan Dzul Majaz mendakwahkan agama Allah.

Di saat seperti itu, Abu Lahab mengikuti Rasulullah ﷺ dari belakang sambil berkata, “Jangan kalian taati dia. Sesungguhnya dia orang yang telah keluar dari agama kaumnya dan seorang pendusta.”

Namun justru akibat dari semua itu, orang-orang Arab pulang dari musim haji dengan membawa berita tentang Rasulullah ﷺ. Nama dan kabar tentang beliau pun tersebar ke seluruh wilayah Arab.

Celaan Al-Qur’an terhadap al-Walid bin al-Mughirah

Berkenaan dengan al-Walid, Allah Ta’ala menurunkan enam belas ayat dari Surah Al-Muddatstsir,

﴿ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيداً (١١) وَجَعَلْتُ لَهُ مالاً مَمْدُوداً (١٢) وَبَنِينَ شُهُوداً (١٣) وَمَهَّدْتُ لَهُ تَمْهِيداً (١٤) ثُمَّ يَطْمَعُ أَنْ أَزِيدَ (١٥) كَلاّ إِنَّهُ كانَ لِآياتِنا عَنِيداً (١٦) سَأُرْهِقُهُ صَعُوداً (١٧) إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ (١٨) فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (١٩) ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (٢٠) ثُمَّ نَظَرَ (٢١) ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ (٢٢) ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ (٢٣) فَقالَ إِنْ هذا إِلاّ سِحْرٌ يُؤْثَرُ (٢٤) إِنْ هذا إِلاّ قَوْلُ الْبَشَرِ (٢٥) سَأُصْلِيهِ سَقَرَ (٢٦)﴾

“Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku ciptakan sendirian. Aku berikan kepadanya harta yang berlimpah, anak-anak yang selalu bersamanya, dan Aku lapangkan baginya kehidupan dengan selapang-lapangnya. Kemudian ia masih menginginkan agar Aku menambahnya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya ia menentang ayat-ayat Kami dengan keras. Aku akan membebaninya dengan pendakian yang sangat berat. Sesungguhnya ia telah berpikir dan menetapkan. Maka celakalah dia, bagaimana ia menetapkan! Kemudian celakalah dia, bagaimana ia menetapkan! Kemudian ia memperhatikan, lalu bermuka masam dan merengut. Kemudian ia berpaling dan menyombongkan diri. Lalu ia berkata, ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang diwariskan. Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.’ Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar.” (QS. Al-Muddatstsir: 11–26)

Dalam ayat tersebut, Allah mengingatkannya akan nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepadanya berupa harta melimpah, anak-anak lelaki yang senantiasa berada di sisinya, dan keluasan harta. Akan tetapi, al-Walid bin al-Mughirah menentang ayat-ayat Al-Qur’an dengan mencari-cari tuduhan apa yang sebaiknya disematkan kepada Al-Qur’an. Akhirnya, ia menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah sihir yang diwariskan dan hanyalah perkataan manusia. Akibatnya kelak Allah akan menghukumnya dengan siksaan yang tidak pernah berhenti dan memasukkannya ke dalam neraka Saqar.

Demikianlah salah satu bentuk penentangan Quraisy di awal dakwah terang-terangan. Mereka berusaha menyatukan tuduhan untuk menjauhkan manusia dari Rasulullah ﷺ, terutama para jemaah haji yang datang ke Makkah. Namun, usaha itu justru membuat kabar tentang Nabi ﷺ semakin tersebar di tengah bangsa Arab. Dakwah yang ingin mereka halangi justru semakin dikenal.

***

Penulis: Fajar Rianto

Artikel Muslim.or.id

 

Referensi:

ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri edisi revisi penulis 1415 H/1994 M.

Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, karya Abul Fida’ Isma’il Ibnu Katsir.


Artikel asli: https://muslim.or.id/116315-musyawarah-kaum-kafir-quraisy.html